Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Wacana Peleburan Kurikulum

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mengevaluasi kurikulum pendidikan yang berlaku saat ini, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Evaluasi itu dilakukan, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, karena banyak persoalan di masyarakat yang erat kaitannya dengan pendidikan. Seperti, mengapa anak-anak sekolah sering tawuran? Apakah pendidikan karakternya kurang? Waktu senggangnya terlalu banyak atau faktor lain?

    Begitupun dengan kemampuan bahasa Inggris di kalangan siswa yang umumnya masih kurang. Padahal, pelajaran Bahasa Inggris disampaikan setidaknya enam tahun pada jenjang SMP dan SMA, bahkan ada yang mulai sekolah dasar. Selain itu, jumlah mata pelajaran di sekolah yang dinilai terlalu banyak juga akan dievaluasi. Di SMA saja, jumlah pelajaran yang harus ditempuh siswa sekitar 17 mata pelajaran.

    Sementara itu, jumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar (SD) rencananya akan disederhanakan, dari rata-rata 11 mata pelajaran, menjadi sekitar tujuh mata pelajaran tahun depan. Muatannya akan diperdalam, khususnya pada materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didik, di samping kemampuan baca, tulis, hitung (calistung). Penekanan pembentukan karakter dan moral ini berimbas pada wacana penghapusan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Soaial (IPS).

    Wacana inipun langsung menuai pro dan kontra. Kelompok yang setuju menilai sudah saatnya kurikulum SD dirampingkan, sehingga tidak berat dan menekankan kreativitas. Sedangkan kelompok yang menolak menilai penghapusan kurikulum IPA dan IPS justru akan menghilangkan dasar pemikiran ilmiah siswa. Atas pro dan kontra yang muncul, Kemendikbud belakangan mengubah pemakaian istilah ‘penghapusan’ menjadi ‘peleburan’.

    Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan penghapusan IPA dan IPS di tingkat sekolah dasar? Tidak setuju? Atau lebih setuju dengan pilihan peleburan kedua mata pelajaran tersebut? Bagaimana pula dengan kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini menurut Anda? Kalaupun mesti dievaluasi, bagaimana seharusnya kurikulum pendidikan di Tanah Air saat ini?
»»  Selanjutnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Implikasi Perkembangan Individu terhadap Pendidikan di Sekolah Dasar


Yelon dan Weinstein (1977) mendeskripsikan implikasi perkembangan individu terhadap perlakuan pendidik (orang dewasa). Para guru hendaknya tidak mengembangkan sesuatu kompetensi pada diri siswa sebelum siswa yang bersangkutan memiliki kemampuan dan kesiapan belajar untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Para guru hendaknya tidak mengajarkan sesuatu materi ajar sebelum siswa yang bersangkutan memiliki kesiapan belajar
untuk mempelajari materi ajar tersebut. Sebab itu, pengetahuan tentang perkembangan individu diperlukan oleh guru dalam rangka mengidentifikasi rentang kompetensi atau materi ajar yang sepadan bagi para siswa yang berada pada tahap perkembangan tertentu.
1.      Perkembangakan Fisik
Mengacu kepada tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977), tahap perkembangan siswa sekolah dasar tergolong pada Masa Kanak-Kanak (Childhood). Implikasi dari perkembangan fisik siswa seperti dijelaskan, maka kegiatan fisik hendaknya betul-betul disadari pentingnya bagi siswa sekolah dasar, terutama di kelas-kelas rendah. Selain itu perlu diperhatikan, kegiatan fisik siswa akan turut membantu perkembangan kognitifnya.
2.      Perkembangan Mental/Kognitif
Berdasarkan tahap perkembangan mental atau kognitif menurut Jean Piaget, perkembangan mental/kognitif siswa sekolah dasar berada pada perkembangan dari tahap operasi awal (the preoperational stage) ke tahap operasi konkrit (the concrete operations stage). Implikasi dari hal di atas, maka pembelajaran bagi siswa sekolah dasar hendaknya: membangkitkan rasa ingin tahu siswa, menghadapkan siswa pada
gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan baru, memungkinkan siswa melakukan eksplorasi, berpikir, dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa.
3.      Perkembangan Sosial
Menurut tahap-tahap perkembangan seperti dikemukakan Yelon dan Weinstein (1977), perkembangan sosial siswa sekolah dasar yakni: berorientasi kepada kelompok tetapi kehidupan rumah masih berpengaruh, ingin bebas, memuja pahlawan, pemisahan dari jenis kelamin, dan bahwa kelompok akan mempengaruhi konsep dirinya. Implikasi dari perkembangan di atas, maka para guru hendaknya: mendorong pertemanan dengan menggunakan proyek-proyek dan permainan kelompok. Selain itu, guru hendaknya memberikan contoh model hubungan sosial yang baik.
4.      Perkembangan Emosional
Perkembangan emosional siswa sekolah dasar antara lain: banyak menggunakan waktu untuk membebaskan diri dari rumah, menyamakan diri dengan teman sebayanya namun masih menerima persetujuan dari orang dewasa, mudah terharu, tetapi pemberani dan percaya pada diri sendiri. Implikasi dari perkembangan di atas, maka guru mestinya menerima kebutuhan-kebutuhan akan kebebasan anak dan menambah tanggung jawab anak. Selain itu, guru hendaknya mengembangkan keberanian dan perasaan percaya diri siswa, juga keterbukaan siswa terhadap kritik.
5.      Perkembangan Moral
Berdasarkan tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral siswa sekolah dasar berada pada pergeseran dari akhir tahap 1 (kepatuhan dan hukuman), tahap 2 (Instrumental Relatif) dan menuju tahap 3 (Orientasi Keselarasan Interpersonal). Implikasi dari tahap perkembangan di atas, maka guru hendaknya bersamasama menciptakan aturan dan kejujuran, secara konsisten mengupayakan disiplin yang tegas dan dapat dipahami. Namun demikian, pada kelas-kelas rendah, para guru diharapkan mempertimbangkan orientasi kepatuhan dan hukuman pada diri siswa.


»»  Selanjutnya...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS